Jumat, 30 Oktober 2009

SELALU KRITIS TERHADAP DOKTRIN NII KW 9




Bersambung dari [PASCA KELUAR DARI NII KW 9]

Selang beberapa bulan lagi, saya sudah benar2 melupakan masalah NII. Saya konsen ke skripsi, untuk mengejar target bisa lulus cepat. Waktu itu teman sekelas saya, namanya Arinda, minta tolong sama saya untuk dikirimin suatu bahan diemailnya. Saya mencatat email itu di HP saya, dan saya benar2 kaget, karena email yang dia berikan adalah email yang saya pikir adalah email Aldi, yaitu “azkiya_05@yahoo.com”. Saya tanya Arinda, ini benar2 emailnya apa bukan. Arinda bilang, “Iya benar ini emailku, memangnya kenapa?” Saya tanya sama dia, pelan2, apakah dia pernah masuk NII dan menulis sebuah tulisan tentang kisahnya di NII. Arinda langsung bingung, saya kenal Arinda, aktivitasnya jelas dan dia bukan orang yang macam2. Jelas dia nggak mungkin orang NII. dan saya menjelaskan sedikit duduk persoalannya. Waktu itu Arinda ketakutan, dia sama sekali tidak tahu tentang NII. Seperti yang sudah saya duga. Arinda nggak macem2. Kemudian Arinda meminta saya menunjukkan situs itu dan email yang dituliskan dibawahnya. Dari ekspresi wajahnya yang ketakutan, akhirnya dia bilang, memang waktu itu ada yang kirim email ke dia, seperti menyinggung sebuah pesantren dan NII. Tapi dia hapus. Kemudian, dari ekspresi saya yang masih bingung dan rada nggak percaya, akhirnya dia kasih tau password email itu. Saya buka dan memang nggak ada yang aneh. Waktu saya tanya apa dia pernah mempublikasikan email itu yang ada keterangannya jurusannya apa dan kuliahnya dimana, dia bilang sama sekali nggak pernah. Arinda heran,bingung dan terus2an bilang takut ke saya, karena email dia sudah dipake orang dalam situs itu. Dan dia bilang dia mau ganti email aja. Agak membingungkan kan? Kalau saya tidak mendapatkan email Arinda, mungkin saya nggak akan pernah lebih yakin lagi kalau ada yang cacat disini. Secara no.HP boleh bohong, tapi kalau email? Kenapa mesti mengambil email orang lain? Apalagi emailnya kebetulan banget email teman sekelasku. Dan membuat masih tetap dalam tanda tanya, apakah Aldi memang sudah keluar, atau semua tulisan itu cuma kedok belaka mengingat NII itu licik? Hanya Allah dan Aldi yang tau. Saya juga nggak tau apakah kalo “Aldi atau bukan Aldi” yang udah “keluar atau belum” itu meneruskan tulisannya disitus2 NII karena dia nggak pernah pakai Identitasnya sendiri, sejauh liat tulisannya diatas pake nama dan email orang lain. Bahkan no. HP yang diberikan pun no.HP yang sudah nggak aktif. Bisa jadi si mungkin traumanya masih ada.

Saya cuma bisa mendoakan, agar suatu saat, kebenaran bisa terungkap, dan orang2 yang dulunya menganggap saya yang memfitnah dia, bisa terbuka mata hatinya, siapa yang sebenarnya difitnah disini.

Dan buat yang merasa dia adalah Aldi, dimanapun hati kamu sekarang, di kiri atau kanan, saya tetap akan menganggap kamu bagian dari hidup saya seperti sahabat2 yang lain, dan kamu tau siapa mereka. Saya juga minta maaf sama Aldi jika selama ini banyak kesalahan dan juga karena sengaja memanfaatkan kepercaaan kamu waktu di NII. Niat saya waktu itu semata2 hanya ingin menolong kamu. Ingat orang tua, setiap kamu mau bertindak.

Iya, hanya itu yang saya sampaikan, lega rasanya akhirnya kisah ini bisa saya ulangi lagi. Buat kak Bahtiar, Pak Sidik, Mbak Anlene dan Mbak Wartawan dari salah satu stasiun TV, saya ucapkan terimaksih banyak. Terutama buat Kak Bahtiar, yang tidak pernah menertawakan apapun yang saya lakukan, mendukung dan pastinya mendoakan saya.

Dan buat siapapun yang orang2 terdekatnya masih di NII, jangan takut berusaha, asal dalam usahanya jangan sampai terseret masuk ke dalam. Yang saya lakukan bukan hal yang patut dicontoh, tapi nggak ada yang salah dengan berusaha menolong, pasti nggak akan sia-sia. Tetap bersabar, dan berdoa sama yang diatas. Allah pasti beserta hamba-hambaNya. Wassalam.

# TAMAT #

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari situs [ini]

PASCA KELUAR DARI NII KW 9

Bersambung dari [AKHIR PENYUSUPAN DI NII KW 9]

Terkukung lumayan lama dengan masalah NII, membuat saya terbagi konsennya dengan kuliah, meskipun nilai saya Alhamdulillah nggak jatuh. Saat itu sore hari, sudah terhitung bulan saya nggak pernah nge net lagi buka situs NII. Mungkin sudah waktunya berbagi, tapi karena ingin konsen dengan kuliah dan skripsi, saya nggak mau buka situs NII lagi untuk sementara. Mungkin rasanya seperti merobek luka yang belum lama kering dan saya nggak mau konsentrasi studi saya buyar. Tetapi sore itu rasanya lain, entah angin apa yang membawa kaki saya, yang sudah berjalan pulang dan kembali lagi ke kampus, ke perpustakaan. Perpus sudah mau tutup, tapi saya bersikeras tetap didalam dan membuka situs NII untuk pertama kalinya sejak saya kabur dari mereka. Dan saya kaget, karena dari situ, ada satu tulisan, yang sepertinya mengeluarkan kata2nya dengan emosi, marah dengan NII. Karena gara2 NII dia banyak dibohongi dan menyakiti hati orang2 terdekatnya. Dan yang membuat saya benar2 terpaku, dibawah tulisan itu, ada no.HP Aldi, tetapi dia menggunakan nama cewek. Memang, khas Aldi, jika tidak mau diketahui idenstitasnya dia menyamarkan dirinya jadi cewek. Berikut ini adalah tulisan yang saya copy-pastekan dari situs NII itu .

“Informasi telah terbuka begitu lebar, bila kita mau membuka pikiran dan membuka hati, maka sebenarnya mudahlah bagi siapa saja untuk mengetahui kebusukan dan kebaikan. Hanya saja orang lebih suka bersembunyi di ruang-ruang tertutup dan Ekslusif, dengan di nina bobokan oleh jargon YANG PALING BENAR, maka terasa Bangga sekali dan dah pasti mewarisi Syurga, padahal hanya dibodohi.

Para perancang Jebakan tahu persis watak orang Indonesia, yang bangga bener kalau dah beda ame orang lain, apalagi diembel-embeli kata-kata “Paling”. Udah deh menikmati bener HALUSINASI yang diciptakan untuk membuat orang seperti KERBAU atau ROBOT, berbuat dan bertindak dengan melepaskan Rasionalitas dan Hati Nurani. Semuanya demi “Kelompok saya Yang Paling Benar”, padahal yang paling benar hanya Allah swt, lainya hanyalah menafsirkan sebagaimana pikiran manusia yang lain yang sangat terbatas.”

Vita – Alumni NII KW – 9
HP : 0852 815 85 190

Jadi, dengan kata lain, melihat tulisan dan no.HP, itu adalah Aldi. Senang sekali rasanya kalau memang itu Aldi. Saya mencoba buat komen dibawah tulisannya. Coment saya seperti ini:

• to mbak vita :

“saya setuju sekali dengan pendapat anda, sangat setuju sekali,,
saya juga merasakan seperti itu, saya menyakiti banyak orang, orang2 terdekat saya, saya sudah memaki2 mereka, saya lakukan apapun asal kedok saya tidak ketahuan, beberapa orang dekat mendekati saya untuk menjauhkan saya dari NII, tapi saya nggak peduli mereka, bahkan orang paling dekat denagn saya telah saya putuskan hubungan saya nggak mau ketemu dia lagi, kalo berpapasan saya pura2 menganggap dia tidak ada, saat itu saya merasa, “yah, emang harus seperti itu” dan saya telah memfitnah orang demi keeksisan saya di NII, lambat laun saya mengerti pemikiran mereka, jadi seperti itu lah, beberapa pemikiran mereka tidak sesuai dengan perkiraan saya, apa yang anda utarakan sama persis dengan yang saya rasakan..
saya butuh teman untuk berbagi, seperti mbak vita juga, maukah kita sama2 berbagi pengalaman dan mengayomi teman2 kita yang masih berada didalamnya? apakah anda sudah berhasil meminta maaf ke orang2 terdekat anda? saya, tidak punya keberanian untuk itu, saya terlalu tidak memilki hati nurani lagi saat menyakiti mereka..
saya telah menghubungi nomor anda,,tapi tidak aktif. saya harap kita bisa mendiskusikan ini semua. Saya tunggu dimana bisa menghubungi anda, saya sedikit mendapat pencerahan ada yang sependapat seperti saya, persis sekali dengan pemikiran saya, saya tunggu kabarnya. Terimakasih.”

Saya tidak menulis nama. Sengaja. Lagian yang saya tuliskan tidak benar2 terjadi cuma kedok doank karena sengaja memancing Aldi. Sebenarnya ada rasa sedih, kenapa kalau sudah keluar, tapi nggak coba mau berkomunikasi lagi sama saya. Apa dia masih berpikir bahwa saya masih orang kanan? Sehingga takut terjerumus lagi? Atau nggak mau tau sekali lagi segala hal yang berbau dengan NII. Kemudian saya mencoba miskol ke no. HP nya, tapi tidak aktif. Agak aneh sebenarnya, jika memang ingin berbagi, kenapa no.HP yang diberikan sudah tidak aktif. Mungkin nggak pengen identitasnya ketahuan, atau masih agak trauma dengan yang terjadi sehingga masih sulit membuka diri. Itu jelas dan bisa dimaklumi.

Dalam hitungan hari sampai minggu, saya mencoba tunggu balesan komen saya tapi nggak pernah dibalas. Saya berpikir, yang penting kalau itu memang benar Aldi, saya sangat bersyukur dia mau keluar. Meskipun bukan hasil jerih payah saya mengclearkan pikiran dia, membuka mata hati dan perasaan dia, tapi saya jadi merasa kunjungan saya hijrah di NII tidaklah sia-sia. Itu semuanya dari ALLAH. Kemudian dalam hitungan 1 bulan, ada sebuah tulisan di topik NII yang lain, tulisan itu seperti menceritakan sedikit apa yang terjadi, dan dari tulisan dia yang penuh dengan curhat-an, ada kalimat yang seperti mengcopy-paste-kan saja comment saya. Ini tulisannya :

“Saya setuju sekali dengan situs ini, sangat setuju ….
Demi ikut NII KW 9 saya menyakiti banyak orang, orang2 terdekat saya, saya sudah memaki2 mereka, saya memfitnah mereka, saya lakukan apapun asal kedok NII KW 9 saya tidak ketahuan. Beberapa orang dekat mendekati saya untuk menjauhkan saya dari NII, tapi saya nggak peduli mereka, bahkan orang paling dekat dengan saya (pacar) telah saya putuskan, saya nggak mau ketemu dia lagi, kalo berpapasan saya pura2 menganggap dia tidak ada.

Saat itu saya merasa, “yah, emang harus seperti itu” dan saya telah memfitnah orang demi ke-eksis-san saya di NII, walau hati saya juga merasa pedih, karena saya tidak mungkin mengaku ikut NII KW 9 kepada temen2 saya ….

Lambat laun saya mengerti pemikiran NII KW 9, beberapa pemikiran mereka tidak sesuai dengan hati nurani saya …

Segala hal yang situs ini sampaikan sama persis dengan yang saya rasakan … saya jadi dilema dan ragu, apa yang NII KW 9 janjikan saat tilawah ternyata bohong semua, hidup saya jadi kacau, kuliah saya amburadul, pekerjaan saya ikut terbengkalai, hubungan saya dengan orang tua jadi renggang, saya dijauhi temen2 yang dulu saya tilawah tapi tidak ikut masuk NII KW 9, saya harus berbohong pada orang tua untuk mendapatkan uang demi pemenuhan infaq, rasa percaya diri saya hilang … apakah Islam seperti ini yang Nabi tanamkan pada umatnya …. ???

Saya butuh teman untuk berbagi, semoga saya mendapatkan temen di situs ini, maukah kita sama2 berbagi pengalaman dan mengayomi teman2 kita yang masih berada didalamnya ?

Apakah anda sudah berhasil meminta maaf ke orang2 terdekat anda ? saya, belum punya keberanian untuk itu, saya butuh kekuatan hati nurani lagi … saya malu, apakah pembaca merasakan hal yang sama ?

Saya membutuhkan nomer2 telpon/HP yang bisa dihubungi, saya harap bisa membagi ini semua, terlalu berat hidup saya menanggung ini semua, saya butuh terapi penyembuhan, saya tunggu dimana bisa menghubungi pembaca semua yang mengalami saya seperti saya, saya mendapat pencerahan dengan membaca situs ini, persis sekali dengan yang saya alami.

Please tolong saya ….”

Zakiyah : azkiya_05@yahoo.com

Ini adalah tulisan yang saya temukan. Anehnya, tulisan ini kok hampir sama dengan comment saya buat tulisan Vita alias Aldi ya? (gak ta niy Aldi beneran or ga, yang jelas itu no.HP Aldi). Coba cocokkan, yang saya Bold itu adalah tulisan yang sama persis, tetapi untuk yang tulisan terakhir diatas, ada penambahan sedikit. Salah satu contoh kalau saya tuliskan bahwa: “ Saya terlalu tidak memilki hati nurani lagi saat menyakiti mereka.”, Tulisan diatas bilang : “Saya Butuh Kekuatan Hati Nurani Lagi….”

Kalau tidak ada kalimat saya yang seperti di copy-paste-kan saja dari pertanyaan saya untuk Aldi sebulan kemarin, saya tidak akan berpikir orang itu kemungkinan Aldi. Meskipun dari curhatan dia, mirip dengan kisah Aldi. Terlalu banyak kemungkinan sebenarnya. Kemudian dibawahnya ada emailnya pula azkiya_05@yahoo.com. Tapi aneh lagi, itu bukan emailnya, dan lagian itu email nama wanita. Bisa jadi memang dia sengaja. Saya merasa cukup terharu waktu itu, kalau memang dia nggak punya muka. Lagian sebenarnya saya sudah lama tidak mengingat lagi bagaimana dia memperlakukan saya dan memfitnah saya. Itu hal yang wajar jika di NII. Yang terpenting sekarang, tak peduli itu Aldi atau bukan meskipun saya waktu itu diatas 50% yakin itu Aldi, tak peduli juga dia menghubungi saya lagi atau nggak, bagaimana dia menilai saya, atau pikirannya pada saya apakah saya masih bersama orang NII atau dia sudah tau bahwa saya berpura-pura, nggak pernah penting lagi, karena memang yang paling penting bagi saya Aldi sudah keluar. Dia sudah merdeka dari NII.

Bersambung ke [SELALU KRITIS TERHADAP DOKTRIN NII KW 9]

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari situs [ini]

AKHIR PENYUSUPAN DI NII KW 9

Bersambung dari [WAHYU TURUN DI PESANTREN AL ZAYTUN]

Saya diajak ke Bogor hari itu, katanya untuk bertemu saudara-saudara yang ada disana. Tapi nggak jadi. Ada perubahan rencana. Setelah ketemu sama Umi S ,dia membolehkan saya mencari Aldi. Abi izat, yang begitu baik sama saya, langsung mengiyakan ketika saya meminta dia untuk menemani saya mencari Aldi di kosannya. Apes, tentu saja Aldi tidak ada ditempat. Lalu saya diajak menginap di rumah salah satu Abi, yang sudah punya istri dan anak baru berumur sebulan 2 bulan. Abi ini yang ada di desa 5, yang tidak punya biaya saat istrinya melahirkan. Rumah abi ini dekat carefour lebak bulus tapi naik 2 angkot lagi dari situ. Tapi si abi jarang di rumah, saat saya disana Abi itu jam 12 malam keluar, katanya rapat penting dengan atasan. Meninggalkan istrinya yang baru melahirkan dan bayinya. Waktu itu umi (istrinya) bilang sudah biasa mereka di tinggal berdua. Abi Izat juga sudah pulang ke rumahnya, dan minta ongkos balik ke rumahnya sama saya, katanya dia kehabisan duit.

Besok pagi, saya benar-benar merasa tertekan karena hari itu jadwalnya untuk ke Bogor, bertemu dengan saudara-saudara yang lain. Tapi, saya berniat untuk pergi mencari Aldi. Sendirian, sebelum Abi Izat datang. Dengan memberanikan diri, saya berusaha mencari Aldi, ke rumah Sakit tempatnya koas , tapi dia nggak ada. Kemudian ke kosnya, nggak ada juga. Katanya, dia pergi dengan teman wanitanya, teman satu kuliah. Saya berniat menunggu. Karena saya ingin benar-benar bertemu sama Aldi. Yang membuat saya khawatir, kenapa saya nggak sekalian bawa tas waktu pergi, karena dalam tas saya ada buku harian yang berisi rahasia saya tentang NII. Semoga tidak dibaca waktu itu, karena saya masukkin ke dalam tumpukkan baju. Ingin sekali rasanya setelah ketemu Aldi saya bisa langsung cabut ke kota saya naik kereta pertama, tanpa perlu lagi bertemu orang NII selamanya. Ketika sedang menunggu, teman sebelah kamar Aldi, namanya Baim, dia sempat ngobrol sama saya. Kemudian ada teman lainnya namanya Chandra. Baim sempat tanya sama Chandra tentang kemana perginya Aldi, tapi Chandra kelihatan banget seperti tidak suka dengan kedatangan saya. Entah perasaan saya juga tidak nyaman dengan dia. Kemudian, belum berapa lama, dia keluar dari kamar, dan bilang sama saya, kalau Aldi pergi ke Tulugangung. Saya jelas nggak percaya, nggak mungkin banget. Kemudian dia sempat bilang “ Ya kalo nggak ada ya nggak ada, niy baca sendiri smsnya.” .Isi inbox itu, bukan nomor Aldi, tapi gaya smsnya memang itu Aldi, katanya

“ Bilang aja sama cewek itu, saya pergi ke Tulungagung naik kereta “. Saya bingung, kok smsnya gitu, kemudian rasa penasaran saya beralih ke sent item-nya. Saya baca sms yang dia kirim buat Aldi, katanya “ Al, ada cewek dari kota L cari kamu, katanya dia pengen nungguin kamu sampai kamu pulang “. Dan tadi yang diatas itu balesan Aldi, yang kata “ Bilang aja…” jelas itu merupakan kalimat ngeles, penolakan, pengecut dan ingin sembunyi. Saya memperlihatkan sms itu sama Baim, yang kemudian senyum masam aja. Tak lama ketika Chandra sudah berangkat kerja, Baim, sempat heran, ada apa sebenarnya. Lagi-lagi, sifat saya yang suka blak2an kalau udah nyesek di dada nggak peduli dia siapa kembali lagi. Saya cerita semuanya apa yang terjadi. Baim yang kerjanya supir ambulans itu jelas kaget. Dari ekspresi wajahnya, saya yakin dia bukan NII. Dan saya bercerita pada orang yang tepat. Karena, dia bilang, abang dia udah 5 tahun nggak pulang karena ikut aliran itu. Setau dia, abang dia pernah pulang waktu tiba2 bawa foto2 cewek, yang ditanyakan sama ibunya mana yang paling cantik untuk dinikahi. Setelah menikah, dia jadi jarang pulang. Mas Baim, dia cukup prihatin dengan keadaan Aldi dan berjanji kalau Aldi pulang dia mau sms saya.

Kembali ke rumah orang NII jelas merupakan pukulan bagi saya. Saya nggak mau balik, dan menyesal sekali meninggalkan tas saya disana. Hari itu, dengan baju melekat di badan saya menginap di tempat kos temen saya waktu SMU. Saya nggak balik ke rumah Abi itu. Handphone saya juga tidak dihubungi2 sama orang NII. Mungkin mereka marah karena saya sudah pergi tanpa pamit padahal mungkin saja schedule saya waktu itu penuh sama mereka. Besok, pagi-pagi sekali jam 6 shubuh saya sudah pergi ke tempat Aldi, kali ini saya benar2 mau mengajak dia ngomong dari hati ke hati. Mas Baim bilang Aldi semalam nggak pulang, tapi setelah sampai di kosan Aldi, saya tau Aldi ada didalam mau ke Rumah Sakit. Saya mengetuk pintu, Aldi membuka dan tampak terkejut, was-was dan berusaha kelihatan tidak tau apa2, mungkin memutar otak cari alasan apa yang membawa dia kembali begitu cepat dari Jakarta-Tulunagung-Jakarta lagi hanya dalam waktu sehari. “ Hai, mau ngapain kesini” .Sapaan basa-basi, pura2 tak ada yang terjadi. Saya bilang saya mau ngomong, tapi karena Aldi mau berangkat kerja, dia menyuruh saya tinggal istirahat dikosnya dan titip kunci kalau saya sudah mau pulang,,Fyuh, kali ini saya nggak mau kalah. Saya harus bisa ngomong sama dia. Meskipun waktu itu rasanya lelah sekali, tapi saya nggak bisa berdiam lebih lama, kembali pada janji saya, terbayang lagi wajah orang tuanya,dan saya, gadis bego sok tau dengan keingintahuan yang sudah akut, ego besar dan tidak puas jika masih ada yang mengganjal, membuat saya rela nungguin Aldi sampai selesai koas. Aldi berjalan bahkan tidak mau dekat2 saya, seolah nggak kenal,dia bahkan nyari nomor Umi S buat kasih tau saya ada dimana. O-oh, tolong jangan. Jangan sekarang saya bertemu Umi S. Tapi untung waktu itu nggak jadi. Saat saya tanya, mau nggak bantuin saya menjenguk kakek dan nenek yang sekarang sedang sakit, dia nggak mau. Rencananya mau diajakkin ke rumah orangtua mas H (Mantan pacar Mbak Anlene), biar dia tau keadaannya gimana. Dan jelas Aldi nggak mau ada ruang lebih lama dengan saya. Tetapi Aldi, yang waktu itu mungkin masih memiliki sedikit hati nurani, menghargai perjuangan saya yang nekat ketemu orang penting di NII seperti dia, dengan membolehkan saya menunggu di ruang tunggu tempat dia praktek di rumah sakit.

Belum berapa lama, sekitar setengah jam menunggu, Aldi mengusir saya dari situ, dia bilang saya beban buat dia. Iya, sudah jelas. Dia nggak mau saya tungguin, padahal dia sudah janji sama saya boleh ditungguin. Dia mengantar saya sampai dapat angkot, karena saya nggak tau arah untuk mengambil tas saya dirumah si Abi. Dalam perjalanan, saya mencoba mengorek2 lagi sama dia, saya mengeluh, kenapa harus orang kaya, kemarin saya dapat taftis tapi ditolak hanya karena dia miskin, tapi Aldi bilang memang harus begitu, dan diam nggak mau bahas itu lagi. Saya tau. Sudah jelas jawabannya, ini akhir kunjungan singkat saya di NII. Aldi, sudah terlampau jauh kepercayaannya, dia bahkan nggak peduli dengan cerita nyata yang saya ceritakan sama dia tentang Bayu yang ditolak didekati hanya karena dia dipandang nggak punya apa2 buat hijrah. Sebelum naik angkot, saya minta untuk terakhir kalinya, Aldi menatap mata saya, jika kata orang mata nggak bisa bohong saya ingin buktikan saat itu juga. Dan dari cara dia menatap, saya mendapat sedikit kerinduan di mata dia untuk bisa bersikap sewajarnya saja sama saya, tanpa harus bersikap kasar, saya langsung memalingkan wajah dan Aldi akhirnya tertawa, kembali ke sikap dia yang semula, tak peduli. Perjalanan ke rumah sang abi cukup jauh, setelah sekitar 3 kali ngoper, sampai juga di rumahnya, daerah Lebak Bulus. Sampai disana, saya sempat disuruh makan, tapi saya cuma ngambil tas dan langsung pengen cabut. Tapi si umi menahan saya, katanya saya dicari Abi Izat, dan harus lapor dulu. Diruangan salah satu rumah, ruangan tertutup yang kata umi ruangan itu nantinya akan dipakai untuk tempat proses hijrah, ada telepon dan saya boleh memakainya untuk nelpon Abi Izat. Seingat saya, waktu itu nomornya nggak bisa dihubungi. Tak lupa berucap trimakasih karena sudah boleh menginap disana (Biar bagaimanapun abi dan umi itu baik sekali sama saya, dan saya prihatin dengan keadaan mereka). Saya pamitan, dan segera meluncur mencari kereta terakhir ke kota saya, dan apesnya, karena perjalanan yang begitu jauh saya ketinggalan kereta, akhirnya saya dapet tiket tanpa tempat duduk dan setelah itu ngoper kereta lagi. Saya nggak peduli, biarlah saya dicap seperti apa, yang penting saat itu saya benar2 pengen lari dari mereka sejauh mungkin dan buang jauh2 keinginan untuk bisa bersama mereka lagi.

Sampai di kota saya, saya sempat telpon sama Abi Izat, katanya lain kali jangan main lari gitu aja. Abi Izat yang begitu baik sama saya dan nggak pernah marah, saya akan selalu ingat kebaikannya. Abi Izat ini keadaannya sangat memprihatinkan, semakin lama badannya makin menciut, seperti tulang belulang, dan dalam keadaan seperti itu dia juga harus tetap menjalankan tugasnya di NII. Bahkan sempat opname kecapean, Typus kalau nggak salah. Setelah telpon beralih ke umi S, kita saling bantah-membantah, tapi saya nggak peduli lagi, saya tetap bersikap tenang, saya bilang keberatan2 saya, dari hal yang paling dasar, kenapa kalau mau Islam seutuhnya harus milih dan harus punya mobil. Umi S bilang saya memang keras kepala, dan ini yang membedakan saya dan Aldi, begitu katanya. Suara umi makin lama makin meninggi, dan saya cuma ketawa dikit dan bilang “ Jangan pake urat, mi…”, dia bilang gini ‘ siapa yang pake urat…? Dasar kamu itu keras kepala”, si umi bilang begitu tapi suaranya malah makin meninggi, jelas-jelas pake urat. Saya langsung mengucapkan salam dan menutup telpon, padahal si umi masih ngomong diseberang sana. Sudahlah. Kisah NII ini sudah tamat bagi saya saat itu. Dan masalah Aldi, sudah cukup saya berusaha, selainnya saya serahkan sama yang diatas. Saya nggak pernah merasa menyesal, sama sekali nggak. Saya malah senang karena bisa dapet pengalaman pahit2 manis bersama NII, tanpa bisa terseret masuk ke dalam.

Bersambung ke [PASCA KELUAR DARI NII KW 9]

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari situs [ini]

WAHYU TURUN DI PESANTREN AL ZAYTUN

Bersambung dari [KASTA KESEJAHTERAAN PETINGGI DIBANDING RAKYAT BAWAH NII KW 9]

Terakhir kali sekitar Januari-Februari 2008 saya kembali ke Jakarta. Saya bertekad untuk menemui Aldi dan kali ini nekat mau mengambil videonya. Apa saja yang ganjil dari dia.

Sampai di Jakarta, saya bertemu dengan umi S bersama abi Izat. Belum apa-apa, saya sudah dimintai uang lagi 50 ribu untuk infak kurban. Kemudian mereka meminta saya untuk ketemuan dengan temean chattingku yang namanya Bayu, anak SMU. Sekali lagi, saya mengakui kebodohan saya sendiri, saya mempertemukan Abi Izat karena katanya hari itu mau perkenalan dulu. Semoga tidak berlanjut. Akhirnya kita ketemuan di Blok M, ketemuan sama Bayu dan kakak sepupunya. Abi Izat memancing pembicaraan, dan rada kurang tertarik sama mereka, meskipun Abi Izat tetap minta nomor telepon rumah. Seusai pertemuan, Abi Izat bilang bahwa mereka orang kampung, miskin, tidak bisa dijadikan target. Apalagi waktu itu abi sempat bilang bahwa saya harus cari orang yang punya mobil agar kalau TL seperti ini kita nggak perlu kepanasan. Beneran waktu itu saya benar-benar marah, bkannya marah karena si Bayu nggak diterusin prosesnya, saya malah bersyukur banget si Bayu nggak diproses, tapi saya marah dengan cara nyebelin mereka itu. Saya memulai perdebatan sepanjang perjalanan, kenapa memang kalau mereka miskin,dan kenapa harus yang punya mobil dengan alasan rendahan seperti itu, Islam itu tidak pernah memilih-milih, dan banyak argumen yang saya katakan sampai abi Izat tidak tau harus berkata apa. Katanya dia dulu juga seperti saya, mempertanyakan! Tapi lama-kelamaan dia jadi mengerti memang harus begitu. Fyyuuuhh! Sudah gitu sebelumnya saya ketemuan juga sama petingginya. Waktu saya tanya kenapa dananya buat megah2in gedung pesantren nggak disalurkan buat orang2 yang kelaparan atau orang2 yang memerlukan gitu? Si Abi petinggi itu malah nanya balik, “ Kalau kamu jadi presiden apa yang kamu lakukan ?”. Yah, saya jawab aja saya mementingkan pengentasan kemiskinan dan kelaparan. Trus Si Abi itu bilang, yang lain bisa menunggu, intinya pusatna dulu dibangun. Lho?kalau dananya Cuma bangun gedung doank, rakyat kita udah keburu busung laper tunggu pesantren dan tetek bengeknya selesai dibangun. Dia juga menambahkan bahwa pemimpin pesantren Az –Zaytun dapet wahyu langsung, yang menemukan Asmaul Husnah yang ke seratus. Abi itu lanjutin,

“ Tapi nggak tau juga sih,,katanya gitu,”. Uhhh… rasanya masih mau terus mengajak debat orang itu. Tapi sudahlah!!! Tutup buku! Tidak ada gunanya meneruskan berdialog dengan kebodohan dogmatis!

Bersambung ke [AKHIR PENYUSUPAN DI NII KW 9]

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari situs [ini]

KASTA KESEJAHTERAAN PETINGGI DIBANDING RAKYAT BAWAH NII KW 9

Bersambung dari [NII KW 9, HIDUP SELALU BERSANDIWARA]

Ada rasa khawatir sebenarnya, melihat orang2 itu, petinggi2nya seperti pak IK, pak AN, pak IQ, mereka bertiga terllihat lebih sejahtera, segar bugar dengan perut buncit, tapi lihat bawahan-bawahannya, abi2 yang di desa 1, keliatan kalo dia orang susah, abi I dan istrinya di desa 2, yang sepertinya kehidupannya juga susah, kosnya aja seperti nggak ada isinya, katanya barang2nya masih di bekasi, dan dia nggak punya duit 250 ribu untuk ngangkut semuanya, ya ampun, 250 ribu ? Bukannya gimana2, tapi yang saya tau abi itu kerja di kantor yang lumayanlah, kemana aja duitnya? di desa 5, abi yang istrinya melahirkan, dan disinggung tentang dia yang nggak punya duit untuk biaya istrinya melahirkan, kalo nggak salah karena duitnya dipake buat bayar apa gitu, dan si umi S, yang di critakan nggak pernah ketemu orang tuanya lagi, udah lama banget nggak pulang ke rumah.. apa dia di usir atau lari? (Padahal si Umi S ini ngakunya anak kedokteran,,, kalau ditanyain kok nggak pernah kuliah, pasti jawabanya muter2).

Sepertinya, perjalananku belum bisa berakhir disini, Aldi udah percaya sama saya, tinggal si NII aja,, walau saya tau mungkin sulit buat nyadarin Aldi nantinya, tapi saya nggak pengen, dia jadi melarat kayak gitu,, biar bagaimanapun, dia di kuliahin jauh2 ke ke Jakarta, bukan untuk jadi seperti mereka, tapi bahagiakan orang tua, gimana jadinya nanti, kalo duitnya lari ke NII semua? Sejenak ada rasa ingin tinggalin Aldi disini, udah males, karena sepertinya Aldi bahagia2 aja di NII, tapi saya nggak bisa terima kalo gitu kenyataannya. Maksud saya, jika nasib Aldi seperti abi2 di desa itu, saya nggak tega, dengan keluarganya Aldi terlebih. Dan minimal jika Aldi jadi petinggi, dimana perasaannya melihat abi2 yang jadi bawahannya itu, karena saya tau, Aldi salah satu anak emas mereka. Tampan, cerdas dan berdedikasi. Orang seperti itu yang kemungkinan besar selalu mereka cari.

Bersambung ke [WAHYU TURUN DI PESANTREN AL ZAYTUN]

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari situs [ini]

NII KW 9, HIDUP SELALU BERSANDIWARA

Bersambung dari [SUASANA RAPAT NEGARA ISLAM INDONESIA KW 9]

Besoknya saya balik ke kota saya, di Jatinegara dianter sama abi Izat dan si umi S, setelah saya pulang, merasa nggak ada perkembangan tentang Aldi, saya sms umi, kalo si Aldi mungkin berpikir saya hijrah karena dia, dan akhirnya, si umi bales, dia bilang saat saya hijrah si Aldi telpon dan bilang kalo saya cerdas dan Hijrah bukan karena dia, saat saya menelepon umi langsung untuk konfirmasi maksudnya apa, si umi sepertinya dengan berat hati kasih tau, “ Jadi, waktu itu, saat kamu di kereta waktu mau hijrah bulan lalu, kan umi sms Aldi, trus malemnya dia telpon, umi juga nggak nyangka, kaget dia nelpon, dia bilang kalo kamu itu cerdas dan hijrah karena kemauan sendiri,,” Saya kaget “Masa siy?” si umi bilang “ iya, jadi waktu itu emang si umi nggak percaya sama kamu, umi masih mikir kamu hijrah karena Aldi, dan yang yakinin umi kalo itu nggak benar ya si Aldi, dan dia sempat ngomong “ Jagain ya mi..” Lucu, saya nggak pernah lagi berhubungan sama Aldi sejak lebaran kemarin, saat dia bilang dia udah dijodohkan dengan dokter juga, tapi saya tetep kontek dengan umi S dan tetep hijrah dan nggak bilang sama dia kalo saya hijrah, mungkin itu yang buat dia percaya, jadi walau dia udah kerasin saya, udah ngomong yang sengaja nyakitin saya, saya tetep hijrah dan itu bisa ngebuktiin.

Saya anggap aja itu perlakuan istimewa. Sebenarnya saya sudah memperhitungkan ini, lama bersama Aldi, membuat saya mengerti bagaimana pola pikir dia, dan dia juga mengerti bagaimana pola pikir saya. Cuma saya waktu itu nggak nyangka, apa yang saya rencanakan, meskipun saya terlambat tau, tapi setidaknya secara sistematis saya sudah mendapat kepercayaan dari Aldi sehingga jika ada kesempatan bisa pelan-pelan membantu meluruskan logikanya lagi. Mungkin dia sengaja ingin liat keseriusan saya di sini, agar dia yakin saya Hijrah bukan karena dia.Karena disaat orang2 nggak percaya saya, dialah yang sibuk ngeyakinin orang2. Tapi kenapa dia tetep nggak ngaku dia udah orang kanan. Seperti yang umi S pernah bilang ke saya “ Ada satu kebenaran yang belum umi bisa kasih tau kamu, umi cuma bisa bilang itu sekarang…”

Waktu denger tentang Aldi yang ternyata selama ini ngeyakinin orang NII bahwa saya srius hijrah, saya bener2 nggak nyangka, saya emang ngerasa, saya nggak dipercaya orang NII,..tapi saya juga ngerasa, sepertinya ada satu yang bisa buat orang NII itu bener2 percaya sama saya, karena mereka nggak mungkin percaya gitu aja kan? Ternata Aldi yang membuat saya masih diberi kesempatan. Aldi yang perkataannya slalu nyakitin saya, tapi juga ngeyakinin orang untuk percaya saya, saat denger itu, saya langsung sms Aldi, saya bilang “ Trimakasih atas kepercayaannya abi..” dan dia bales “Kamu salah kirim kali..” mungkin dia berpikir sms itu buat abi Izat, trus saya bilang “ Itu nggak salah kirim, itu buat abi..” (pura-pura sok akrab panggil abi). Dia nggak bales lagi, dan setelah itu dia sms lagi, tapi besoknya, tanpa angin tanpa hujan, kita sms an seperti biasa, dan kalo nggak salah setelah sms an itu dia ikut tazkiah lagi sama umi S. saat telponan ma dia, tetep aja dia omong yang nggak enak, dia cuma bilang “ Mana taftisnya? Omong doank..”

Kalau saya pura-pura bertanya apa orang NII masih nggak percaya sama saya kalau saya hijrah bukan karena Aldi, Aldi bilang “Itu hanya perasaanmu saja.., gw yakin semua orang percaya lo hijrah bukan karena gw, gw aja percaya walau gw orang kiri..”

Itu sms terakhirnya karena saya nggak pernah sms dia lagi, karena udah dapet kepercayaan Aldi.

Bersambung ke [KASTA KESEJAHTERAAN PETINGGI DIBANDING RAKYAT BAWAH NII KW 9]

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari situs [ini]

SUASANA RAPAT NEGARA ISLAM INDONESIA KW 9

Bersambung dari [GAGAL DAPAT BINATANG TERNAK NII KW 9]

Jumat tanggal 28 Januari 2008

Karena tidak berhasil bawa TL atau taftis ke Jakarta, saya disuruh ke Jakarta katanya untuk rapat dengan atasan yang diadakan tiap bulannya, dengan berat hati dan juga tekad ingin lihat keadaan Aldi, perkembangannya sudah sejauh mana, saya ke Jakarta juga. Skalian saya pengen tau gimana keadaan mereka saat membahas duit2 dan sgala macamnya, hari sabtu saya sampai di Jakarta. Waktu itu yang news banget mereka ingin menghijrahkan anak walikota Jakarta,..untungnya nggak jadi, anaknya katanya udah pernah dapet dan anaknya nolak. Akhirnya, sang suami istri yang biasa dipanggil abi I dan Umi D pulang ke dengan tampang kusut. Kemarin saya istirahat di rumah mereka berdua. Setelah itu, saya ketemu sama abi Izat dan umi S, saya bilang saya ingin cari Aldi, dan mereka mau mengantarkan saya, nyari Aldi, tapi ternyata Aldi nggak bisa ditemukan dimanapun, katanya dia sedang ke tulungagung karena kakeknya meninggal. Beberapa hari sebelumnya, Aldi sempat sms saya nanyain kabar saya bagaimana, jadi saya pikir Aldi setidaknya udah baik dan bisa di ajak omong, makanya pengen ketemu.

Hari minggu, saya bolak-balik dari tempat mereka ke tanah abang, saya lebih milih tinggal sama om saya, jadi kalo mereka minta macem2 setidaknya saya punya tameng. Waktu itu kita rapatnya di salah satu SMK di Jakarta, gedung pertemuan yang disewa. Saya ada di desa 10, terbagi atas 4 desa. Desa 1, dipimpin sama suami istri. Desa 2, juga suami istri, desa 3 seorang yang masih muda dan mereka memegang 1 mukri, dan desa 4, timnya saya si umi S sang mukri, yang dipimpin sama abi Izat ,kemudian ada desa 5 yang baru dipindahkan dari desa 10 inti, anggotanya masih 2 orang tapi isinya orang2 yang udah berpengalaman, salah satunya duduk di sebelah saya, dia ajakin ngobrol, mbak itu orang jawa juga jadi nyambung ngomong sama saya, kirain dia orang biasa taunya dia orang penting di desa inti 10 dan dipindahin ke desa 10 bayangan karena dia disuruh ngembangin juga, dia mukri yang beranak cucu. Mukri itu orang yang bertugas menyampaikan, sama kayak Umi S. Umi itu namanya Umi Sahnaz, dia sempat kasih beberapa pertanyaan, saat saya cerita tentang Aldi, dia bilang, “Oh yang putih itu? Dia datang kok minggu lalu, katanya siy dia orang kedua di tim kamu, setelah abi Izat” saya nggak gitu kaget, karena di tim saya cowoknya Cuma ada 2 aja, saat liat daftar nama namanya memang di tempat kedua, orang2 NII nyembunyiin semuanya dari saya.

Saat mulai rapat rasanya masih enak, tapi ternyata setelah ke dalam2nya jadi mengerikan, kita dimarah2in karena taftis yang didapat nggak ada, itu adalah pertemuan ketiga dalam sebulanan, nggak lama lagi tutup buku bulanan. Tiap minggu memang ada pertemuan seperti ini. Untuk desa 1 paling parah, dimarahin habis2an, padahal anggotanya suami istri, tapi pimpinan nggak mau mandang ada istrinya atau nggak, saya kaget bukan main, seruangan terdiam dengar bentak2 dari pimpinan itu. Desa 2, si abi Z pimpinannya, juga dimarahin karena katanya nggak ada perubahan. Desa 3, saya melihat tim mereka cukup solid, karena menghasilkan 1 taftis, dan taftis saat itu sudah ikut rapat pula, dan desa 4, nggak ada 1 pun yang goal, dan itu juga termasuk yang di kota saya,akhirnya saya disuruh ngomong apa aja yang kira2 menyebabkan mereka nggak goal. Di rapat itu, saya disinggung kalo saya belum yakin 100% benar oleh umi S, didepan forum, dan saya nggak ngerti juga keberanian apa yang merasuki saya bicara dengan lantang didepan petingginya, saya menjelaskan semuanya bahwa mungkin ada yang salah dengan metode yang dipakai. Saat itu ada pak R yang bilang “ Bagus..” entah apanya yang bagus, padahal sebelumnya dia yang termasuk menyudutkan saya, menatap saya dengan dingin.

Diakhir rapat, desa saya masih kurang dana 750 ribu, dan abi Izat disuruh cari sisanya dalam 1 jam. Saya bertanya sama Abi Izat “ Bi.,.cari uang 750 ribu, dapet darimana? Dalam sejam lagi..” tapi dia Cuma jwab “ Bissmillah aja, pasti ada jalan..” Saya bingung, jalan yang kayak gimana?

Bersambung ke [NII KW 9, HIDUP SELALU BERSANDIWARA]

Ditulis ulang oleh :
Bahtiar Rifai
Mantan NII KW 9
HP. 08132 8484 289
Email : bahtiar@gmail.com
Ilustrasi diambil dari situs [ini]